Senin, 22 Agustus 2011

Teruntuk harapku


Malam terang bulan, aku ingin pandangi kehidupan yang lebih jelas dalam gulita. apa itu terwujud ?
disaat, denyut jantung mulai mendesak & acapnya perih yang teruntai di sendi makin kontras diberi.

ada harapan & ada doa. ku tulis itu pada secarik kertas. teruntuk alam yang tak menjawab jeritanku.
aku ingin sempurna, namun beribu keterbatasan menghalangi. namun dengan semata, aku hanya ingin berguna,tak perlu muluk harapku untuk dunia, cukup untuk lingkunganku.
aku terisolir pada reruntuhan yang tersisih, tercaci diatas tawa mereka yang 'sempurna', dendam yang terucap lirih, untuk membuat mimpi menjadi nyata. namun lagi, aku terbatas dengan sekelujur batas menguntai.

berikan senyum simetris untuk orang yang bertanya "kamu kenapa ?" "aku baik-baik saja..."
berusaha menutup tabir jerit-jerit hati yang tak terungkap, aku menyadari, takkan lama, Dentuman jarum jam yang ingatkanku untuk terpanggilnya aku.

tapi, aku masih ingin, & masih menikmati Sang pengantar terbit, Bulan & Bintang yang menjadi laksamana atas pasukannya, diranah kegelapan teruntuk terang.
dalam bujur lidah ku harap masih sanggup
dalam nafasku yang makin terkatup,

bukan untukku, tapi merekalah yang aku peruntukan. keluarga, lingkungan, dan dunia.
sempatkan hamba ya Allah.

2 komentar:

  1. gpp. selintas imaginasi sj ^^. ditambah badan sedang kurang sehat.

    BalasHapus

Dilarang Junk/Spam & sara !

-No Captcha
-Komentar langsung tertera pada kolom

mohon untuk memberikan Google Plus One ( +1 ) pada postingan menarik

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...